Di era digital saat ini, hampir setiap anak sudah akrab dengan gadget sejak usia dini. Ponsel pintar dan tablet bukan lagi barang asing, melainkan bagian dari keseharian mereka — mulai dari belajar, bermain, hingga berkomunikasi. Namun, pertanyaannya, apakah kedekatan anak dengan gadget ini membawa manfaat atau justru mengancam proses pendidikan mereka?
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa gadget punya dua sisi mata pisau. Di satu sisi, teknologi membuka akses informasi yang sangat luas. Anak dapat dengan mudah mencari materi pelajaran, mengikuti kelas daring, atau berdiskusi dengan teman lewat aplikasi pesan (Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar, Undiksha). Studi besar yang dimuat di JAMA Pediatrics bahkan menemukan bahwa konten digital yang bersifat interaktif dan edukatif cenderung memberi dampak netral hingga positif bagi perkembangan anak — berbeda jauh dari konten hiburan yang hanya ditonton secara pasif.
Sayangnya, sisi lain dari gadget tidak kalah nyata. Penelitian kohort besar di Kanada yang dipublikasikan dalam JAMA Network Open (2025) terhadap lebih dari 5.000 anak sekolah dasar menemukan bahwa semakin lama waktu anak menatap layar — terutama untuk menonton TV dan media digital — semakin rendah pula nilai mereka pada tes membaca dan matematika. Temuan ini sejalan dengan hasil kajian di jurnal Cureus (2023), yang menyebut bahwa screen time berlebihan, apalagi disertai kebiasaan multitasking media, berkaitan dengan menurunnya fungsi eksekutif otak dan performa belajar anak.
Dampaknya bukan hanya soal nilai akademik. Riset kualitatif terhadap siswa kelas V SD (Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar, Undiksha) menemukan bahwa anak yang menggunakan gadget lebih dari dua jam sehari cenderung lebih mudah marah, sulit diatur, dan mulai mengabaikan kewajiban belajarnya. Kajian lain di Muaddib: Islamic Education Journal (2024) juga mencatat bahwa gadget yang digunakan tanpa kontrol dapat mengurangi interaksi sosial tatap muka anak, mengganggu pola tidur, sekaligus menurunkan aktivitas fisik mereka — tiga hal yang sebenarnya sangat penting untuk mendukung konsentrasi belajar di sekolah.
Lalu, apa yang sebenarnya menentukan gadget itu membawa manfaat atau mudarat? Menurut studi literatur dalam Jurnal Pendidikan Tambusai (2025), jawabannya terletak pada tiga hal: durasi pemakaian, jenis konten yang diakses, dan yang tak kalah penting, pengawasan orang tua. Gadget yang digunakan sebentar, untuk konten edukatif, serta didampingi orang tua, terbukti memberi dampak yang jauh berbeda dibanding pemakaian bebas tanpa batas.
Pada akhirnya, gadget bukanlah musuh pendidikan anak, tetapi juga bukan solusi ajaib. Ia adalah alat — dan seperti alat pada umumnya, hasil yang diberikan sangat bergantung pada cara penggunaannya. Orang tua dan sekolah punya peran penting untuk membimbing anak agar teknologi benar-benar menjadi jembatan menuju pengetahuan, bukan penghalang tumbuh kembang mereka.
Referensi
- Li, X., et al. (2025). Screen Time and Standardized Academic Achievement Tests in Elementary School. JAMA Network Open. https://doi.org/10.1001/jamanetworkopen.2025.37092
- Muppalla, S. K., et al. (2023). Effects of Excessive Screen Time on Child Development: An Updated Review and Strategies for Management. Cureus, 15(6), e40608. https://doi.org/10.7759/cureus.40608
- Dampak Penggunaan Gadget terhadap Perkembangan Psikologi pada Anak Sekolah Dasar. Jurnal Ilmiah Sekolah Dasar, Undiksha. https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JISD/article/view/22310
- Masykura Setiadi, F., Maryati, S., & Mubharokh, A. S. (2024). Analisis Dampak Penggunaan Gadget Terhadap Perkembangan Psikologis dan Keagamaan Anak Usia Dini. Muaddib: Islamic Education Journal, 7(1). https://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/muaddib/article/view/24432
- Studi Literature: Pengaruh Penggunaan Gadget Dikalangan Anak Sekolah Dasar. Jurnal Pendidikan Tambusai (2025). https://jptam.org/index.php/jptam/article/view/25150
Komentar (0)
Login untuk berkomentar
Login dengan GoogleBelum ada komentar